PAKKAR.ORG-CIAMIS JAWA BARAT :Tradisi Hajat Bumi di Kampung Jagabaya, Desa Jagabaya, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, kembali digelar pada Kamis (18/6/2026). Lebih dari sekadar ritual tahunan menyambut bulan Muharram, kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga warisan leluhur sekaligus mengenalkan potensi desa kepada publik.
Suasana semakin meriah dengan hadirnya Ketua Komite Ekraf Kabupaten Majalengka, H. Baya. Putra asli Panawangan itu bahkan ikut menari bersama para seniman dalam pentas Seni Tayub yang menjadi penutup rangkaian Hajat Bumi.
1. Tradisi syukur yang diwariskan turun-temurun
Rangkaian Hajat Bumi diawali dengan penyembelihan kambing kendit sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen dan rezeki yang diterima masyarakat selama setahun terakhir. Daging kambing kemudian dimasak dan disantap bersama sebagai lambang kebersamaan.
Setelah itu, warga melaksanakan Shalat Hajat dan Sujud Syukur di Masjid Miftahul Huda, dilanjutkan ziarah ke Makom Keramat Jagabaya yang diyakini sebagai petilasan leluhur sekaligus tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi identitas masyarakat Jagabaya.
2. Sejarah kampung dan Tayub jadi daya tarik budaya
Usai ziarah, masyarakat berkumpul di Balai Desa untuk mengikuti sedekah bumi dan pembacaan sejarah Kampung Jagabaya oleh para sesepuh. Momen tersebut menjadi sarana mengenalkan asal-usul desa sekaligus menanamkan nilai budaya kepada generasi muda.
Puncak acara ditandai dengan pentas Seni Tayub yang membawakan tiga lagu wajib, yakni Titipati, Golewang, dan Raja Pulang. Antusiasme warga semakin terasa ketika H. Baya ikut naik ke arena dan menari bersama para pelaku seni.
3. H. Baya ingin Hajat Bumi jadi agenda wisata unggulan
Menurut H. Baya, Hajat Bumi memiliki nilai budaya yang sangat kuat sehingga layak dikembangkan sebagai agenda wisata tahunan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Hajat Bumi bukan hanya tradisi syukuran, tetapi identitas masyarakat yang menyimpan sejarah, nilai spiritual, dan semangat gotong royong. Potensi seperti ini harus terus dijaga dan dipromosikan,” ujarnya.
Ia berharap penyelenggaraan Hajat Bumi ke depan tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi etalase produk unggulan desa.
“Saya ingin ke depan ada pameran hasil pertanian, beras organik, hasil kebun, hingga kerajinan tangan masyarakat. Wisatawan datang menikmati budaya sekaligus membeli produk lokal sehingga ekonomi kreatif desa ikut tumbuh,” katanya.
H. Baya menilai Desa Jagabaya memiliki modal besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata budaya karena masih mempertahankan tradisi leluhur yang berpadu dengan potensi pertanian dan sumber daya masyarakat.
“Dengan budaya yang tetap hidup, tanah yang subur, dan masyarakat yang kompak, Jagabaya bisa menjadi contoh bagaimana tradisi mampu menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah,” tuturnya.
Perpaduan ritual adat, wisata religi, pembacaan sejarah, hingga pentas Tayub membuat Hajat Bumi tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya yang berpotensi menarik wisatawan dari berbagai daerah.(www.pakkar.org//ras/@eko)






